Selasa, 27 Oktober 2015

RIVIEW JARINGAN ULMA



NAMA   : ISNAENI ALFI N
KELAS  : SMT II1 PAI A
NIM        : 14.10.834
MAPEL : ASWAJA

JARINGAN ULAMA

Penulis                                                :Prof.Dr.Azyumardi Azra, MA.
Judul                                                  :Jaringan Ulama Timur Tengah dan           
                                                              Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII
Jml halaman                                      : xxvi, 466 hlm, 23 cm
Kota penerbit                                    :Jl. Tambra Raya No.23 Rawamangun
                                                              Jakarta
Penerbit dan tahun terbit                 : KENCANA PRENADA MEDIA GROUP

Sumber dinamika Islam abad ke-17 dan ke-18 adalah jaringan ulama, yang terutama  berpusat di Makkah dan  Madinah. Posisi penting kedua kota suci ini, khususnya dalam kaitan dengan ibadah haji, mendorong sejumlah besar guru (‘ulama) dan penuntut ilmu dari berbagai wilayah Dunia Muslim datang dan bermukim di sana, yang pada gilirannya menciptakan semacam jaringan keilmuan yang menghasilkan wacanan ilmiah yang unik. Sebagian besar mereka yang terlibat dalam jaringan ulama ini, yang berasal dari berbagai wilayah Dunia Muslim, membawa berbagai tradisi keilmuan ke Makkah dan Madinah. Tema pokok pembaharuan mereka adalah rekontruksi sosio-moral masyarakat Muslim. Karena hubungan-hubungan ekstensis dalam jaringan ulama, semangat pembaharuan tadi segera menemukan berbagai ekspresinya di banyak bagian Dunia Muslim.
Bagaimana gagasan pemikiran islam di transmisikan dari pusat-pusat jaringan sehingga terbentuk hubungan antara ulama Timur Tengah dan sampai ke Nusantara???????
Hubungan antara kaum Muslim di kawasan Melayu-Indonesia dan Timur Tengah telah terjalin sejak masa-masa awal Islam. Proses-proses dan alur historis yang terjadi dalam perjalanan Islam di Nuisantara dalam hubungannya dengan perkembangan Islam di Timur Tengah, bias dilacak sejak masa awal kedatangan dan penyebaran Islam di Nasantara sampai kurun waktu yang cukup panjang, yakni akhir abad ke18. Pada awalnya hubungan itu lebih berbentuk hubungan ekonomi dan dagang, kemudian disusul hubungan politik-keagamaan, dan selanjutnya diikuti hubungan intelektual keagamaan. Untuk memahami secara akurat bentuk-bentuk interaksi dan hubungan antara kedua wilayah ini, dan dinamika historis yang terlibat didalamnya, dalam Bab ini kita akan mengkaji berbagai teori tentang kedatangan dan perkembangan awal Islam di Nusantara dengan kaitannya melihat dinamika Islam yang terjadi di Timur Tengah. Dan hubungan Awal Muslim Nusantara dengan Timur Tengah.
Teori-teori kedatangan Islam di Nusantara
1.      PIJNAPPEL
bahwa asal-muasal Islam di Nusantara berasal dari Anak Benua India bukan Persia atau Arabia. Dia mengaitkan asal muasal Islam di Nusantara dengan wilayah Gujarat dan Malabar, menurut dia orang-orang Arab bermadzhab Syafi’I yang bermigrasi dan menetap di wilayah India tersebut yang kemudian membawa Islam ke Nusantara.
2.      SNOUCK HURGRONJE
Berhujah, begitu Islam berpijak kokoh dibeberapa pelabuhan Anak Benua India Muslim Deccon tinggal disana sebagai pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dengan Nusantara datang ke Dunia Melayu Indonesia sebagai para penyebar Islam pertama. Kemudian mereka disusul orang-orang Arab kebnyakan keturunan Nabi karena menggunakan gelar sayyid atau syarif yang menyelesaikan Islam di Nusantara.
3.      MOQUETTE
Mengatakan bahwa tempat asal Islam di Nusantara adalah Gujarat. Ia mendasarkan kesimpulan ini setelah mengamati bentuk batu nisan di Pasai, kawasan Utara Sumatra, khususnya yang bertanggal 17 Dzu Al-Hijjah 831 H./27 September 1428 M. batu nisan yang kelihatannya mirip dengan batu nasal lain yang ditemukan di makam Mawlana Malik Ibrahim (w. 822/1419) di Gersik Jawa Timur , ternyata sama bentuknya dengan batu nisan yang ditemukan di Cambay, Gujarat.
4.      Marrison
Mengemukakan teorinya bahwa Islam di Nusantara buakan berasal dari Gujarat, melainkan dibawa penyebar Muslim dari pantai Coromandel pada akhir abad 13.
5.      KEIJZER
Bahwa Islam di Nusantara berasal dari Mesir. Atas dasar pertimbangan kesamaan kepemelukan penduduk Muslim di kedua wilayah kepada mazhab syafi’i.
6.      CRAWFRUD
mengatakan Bahwa Islam dibawa langsung dari Arabia. Teori Arabia ini juga dipegang oleh Niemann dan de Hollander dengan sedikit revisi, mereka memandang bukan Mesir sebagai sumber Islam di Nusantara, melainkan Hadhramawut.
Dalam seminar yang disalenggarakan pada tahun 1969 dan 1978 menyimpulkan bahwa, Islam datang langsung dari Arabia, tidak dari India, tidak pada abad ke-12 atau ke-13 melainkan dalam abad pertama Hijri atau abad ke-7 Masehi. Dengan ditemukannya bukti-bukti seutbagai berikut:
Menurut Hikayat Raja-Raja Pasai ( di tulis setelah 1350), seorang Syaikh ‘Ismail datang dengan kapal dari Mekah via Malabar ke Pasai, di sini ia membuat Merah Silau penguasa setempat, masuk Islam. Merah Silau kemudian mengambil gelar Malik Al-Salih yang wafat pada 698/1297.
-       Menurut sejarah Melayu (ditulis setelah 1500), penguasa Malaka juga di Islamkan oleh Sayyid ‘Abd Al-Aziz seorang Arab dari Jeddah yang kemudian mengganti nama dengan gelar Sultan Muhammad Syah.
-       Hikayat Merong Mahawangsa (ditulis setelah 1630), meriwayatkan bahwa seorang Syaikh’Abd Allah Al-Yamani datang dari Makkah ke Nusantara dan mengislamkan penguasa setempat (Phra Ong Mahawangsa) menganti nama dengan gelar Sultan Muzhaffar Syah, para Mentri dan penduduk Keddah).
-       Sementara itu, sebuah historiografi dari Aceh memberi Informasi bahwa nenek moyang para sultan Aceh adalah seorang Arab bernama Syaikh Jamal Al-Alam, yang dikirim Sultan Utsmani untuk mengislamkan Penduduk Aceh. Sebuah riwayat Aceh lainnya menyatakan bahwa Islam diperkenalkan ke kawasan Aceh oleh seorng Arab Syaikh ‘Abd Allah ‘Arif sekitar 506/1111.
-       Kebanyakan sarjana bersepakat, bahwa diantara penyebar pertama Islam di Jawa adalah Mawlana Malik Ibrahim.
Hubungan Awal Muslim Nusantara dengan Timur Tengah
Hubungan Nusantara dengan Timur Tengah berawal dari perdagangan yang dimulai pada masa Phunisia dan Saba. Hubungan antara keduanya pada massa beberapa waktu sebelum kedatangan Islam dan masa awal Islam terrutama merupakan hasil dari perdagangan Arab dan Persia dengan Dinasti Cina. Yang kemudian melakuakn pengembaraan sampai ke Nusantara. Bukan hanya perdagangan, setelah kebangkitan Islam di Timur Tengah tetapi jaga berbagai bentuk hubungan dan pertukaran (exchanges) keagamaan, social, politik dan kebudayaan.
Timur tengan, cina, dan Nusantara
Kontak tercatat pertama antara Timur Tengah dengan Cina pada umumnya bersifat diplomatic. Dibuktikan adanya pengiriman duta ke cina pada masa khalifah ketiga, Utsman bin Affan (23-35/644-56). Ekspanasi Islam ke Persia dan Anak Benua India sepanjang masa Dinasti Ummayah (40-132/660-749) memberikan dorongan kepada pelayaran Arab-Persia untuk menjelajah sampai ke Timur jauh. Sejak penaklukan wlayah ini memberikan Muslim Arab dan orang Persia yang baru memeluk Islam sejumlah pelabuhan –pelabuhan strategis dari Teluk Persia sampai Lautan India. Selama sekitar 90 tahun masa Dinasti Ummayah, 17 duta Muslim muncul di Istana Cina, diikuti 18 duta yang dikirim oleh para penguasa Dinasti Abbasiyah (133/750-182/798). Menyebabkan berkembangnya koloni Ta Shih di Kanfu(Kanton) terbentuk pada paruh kedua abad ke-7 M. menjelang abad ke-8, Muslim Arab dan Persia di Knton menjadi banyak dan muncul pemberontakan terhadap penguasa cina. Pada 51/671 munculnya Muslim timur Tengah yang kebanyakan Arab-Persia di Nusantara. Tepatnya di pelabuhan muara sungai Bhoga/Palembang, ibukota Kerajaan Budha Sriwijaya. Hubungan-hubungan politik dan diplomatik internasional Sriwijaya tidak hanya diberikan sumber-sumber Arab tetapi sejumlah informasi lain.
“Benua Ruhum” dan Nusantara
Kebangkitan beberapa kerajaan Muslim di Nusantara sejak abad ke-13 menciptakan momentum baru bagi hubungan-hubungan politik, agama antara Timur Tengah dengan Nusantara. Pada abad ini mereka mulai memberikan perhatian khusus pada usaha-usaha penyebaran Islam di Nusantara.mempertimbangkan semua perkembangan ini, tak heran kalau kemudian para pedagang Arab dan Persia inimengalihkan kegiatan-kegiatan dagang mereka ke tempat-tempat lain di Nusantara. Selain berdagang mereka mulai mengambil bagian lebih aktf dalam penyebaran Islam sehingga hubungan yang baru lebih akrab antara Timur Tengah dan Nusantara mulai muncul,hubungan yang diperkuat dengan tali agama yang kini dengan cepat berkembang.
Makkah dan Madinah hubungan dengan Nusantara
Hubungan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dengan Timur Tengah tidak terbatas pada Dinasti Utsmani. Aceh, misalnya juga menjalin hubungan dengan pusat keagamaan Islam, yakni Makkah dan Madinah. Meski hubungan ini bersifat keagamaan ketimbang politik, penting dicatat bahwa hubungan penguasa Aceh dengan Haramnyn mempunyai implikasi politik yang penting bagi Aceh. Disamping penguasa-penguasa Aceh, Banten dan Mataram, beberapa penguasa Muslim lainnya juga diketahui pernah menerima surat dari penguasa Haramnyn. Menurut Daghegister 1640-1641,Sultan Palembang menerima beberapa pucuk surat dari Makkah, yang dikirimkan dengan kapal-kapal Aceh. Pengiriman surat-surat melalui pihak ketiga seperti dalam kasus Keseltanan Palembang dan mengirim dua orang mullah dari Makkah ke Makasar mengindikasikan terdapatnya orang-orang Nusantara dari masing-masing wilayah itu di Makkah. Mereka boleh jadi adalah para pedagang atau jamaah haji yang, memperpanjang masa tinggal mereka di Makkah untuk berdagang dan menuntut ilmu, juga memainkan peran sebagai duta-duta karajaan mereka di Haramayn. Para penguasa Haramayn setidaknya sejak abad ke-16 ketika mulai terjalinnya hubungan-hubungan, terutama melalui perdagangan, kelihatannya telah mengenal baik Muslim Nusantara.
Untuk menyimpulkan, hubungan-hubungan antara Timur Tengah dengan Nusantara sejak kebangkitan Islam sampai paruh kedua abad ke-17 menempuh beberapa fase. Dalam fase pertama, akhir abad ke-8 sampai abad ke-12, hubungan-hubungan yang ada pada umumnya berkenaan dengan perdagangan. Inisiatif dalam hubungan-hubungan semacam ini kebanyakan diprakarsai Muslim Timur Tengah, khususnya Arab dan Persia. Dalam fase berikutnya, smpai akhir abad ke-15, hubungan-hubungan antara kedua kawasan mulai mengambil aspek-aspek lebih luas. Muslim Arab dan Persia, apakah pedagang atau pengembara sufi, mulai mengintensifikasikan penyebaran Islam di berbagai wilayah Nusantara. Pada tahap ini hubungan-hubungan keagamaan dan kultural terjalin lebih erat.
Tahap ketiga adalah sejak abad ke-16 sampai paruh kedua abad ke 17. Dalam masa ini hungan-hubungan yang terjalin lebih bersifat politik selain keagamaan tadi. Di antara factor terpenting di balik perkembangan ini adalah kedatangan dan peningkatan pertarungan di antara kekuasaan Portugis dengan Dinasti Utsmani di kawasan Lautan India. Dalam periode ini, kaum Muslim Nusantara mengambil banyak inisiatif untuk menjalin hubungan politik dan keagamaan dengan Dinasti Utsmani dan sekaligus pula memainkan peran lebih aktif dam perdagangan di Lautan India. Menjelang paruh kedua abad ke-17, hubungan-hubungan keagamaan dan politik juga terjalin dengan para penguasa Haramayn. Dalam periode ini, Muslim Nusantara semakin banyak ke Tanah Suci, yang pada gilirannya mendorong terciptanya jalinan keilmuan antara Timur Tengah dengan Nusantara melalui ulama Timur Tengah dan murid-murid Jawi, yang akan dibahas pada bab selanjutnya.
JARINGAN ULAMA DI HARAMAYN ABAD KETUJUH BELAS
Makkah dan Madinah, sering disebut (“dua haram”), menduduki posisi sangat istimewa dalam Islam dan kehidupan kaum Muslim. Ilmu yang diperoleh di Haramayn dipandang lebih tinggi nilainya dari pada ilmu yang diperoleh di pusat-pusat keilmuan lain. Bagi banyak Muslim, khususnya di Nusantara, ulama jebolan Haramayn dipandang lebih dihormati daripada mereka yang memperoleh pendidikan di tempat lain di mana pun. Haramayn adalah pusat intelaktual Dunia Muslim, ulama, sufi, filosof, penyair, pengusaha, dan sejarawan Muslim bertemu dan saling menukar informasi. Inilah satu sebab mengapa ulama dan penuntut ilmu yang mengajar dan belajar di Makkah dan Madinah pada umumnya memiliki pandangan keagamaan lebih cosmopolitan dibandingkan merekan yang berada di kota-kota Muslim lain.
Kebangkitan jaringan ulama itu berkaitan dengan beberapa faktor penting, yang tidak hanya bersifat keagamaan, tetapi juga ekonomi, social, dan politik. Faktor-faktor ini bekerja, baik pada tingkat masyarakat Muslim tertentu maupun pada tingkat dunia Muslim. Kontak dan hubungan antara Muslim di Nusantara dan Timur Tengah mulai menemukan momentum dengan muncul dan berkembangnya kerajaan-kerajaan Muslim di Nusantara. Intensifikasi perdagangan di Lautan India menimbulkan kontak yang lebih intens tidak hanya diantara para pedagang Muslim, tetapi juga diantara penguasa dan pejabat-pejabat Muslim. Peningkatan kehadiran bangsa Eropa khususnya Portugis, di kawasan lautan India juga merupakan faktor penting yang mendorong terciptanya hubungan politik dan diplomatic yang lebih erat antara Nusantara dan Timur Tengah. Akselerasi hubungan-hubungan ini memberi sumbangan signifikan kepada pertumbuhan jumlah jamaah haji Melayu-Indonesia di Haramayn, yang pada gilirannya memacu keterlibatan mereka di dalam jaringan ulama yang ada.
Kebangkitan Madrasah Haramayn
Kembalinya ulama merangsang sekali lagi kebangkitan keilmuan Suni yang pada gilirannya, mendorong pertumbuhan madrasah sebagai pendidikan tipikal Muslim. Sebelum munculnya madrasah, pendidikan Muslim sejak masa Nabi dilaksanakan dalam halaqah, majlis al-tadris, dan kuttab. Madrasah pertama di Makkah adalah Madrasah Al-Ursufiyah yang didirikan pada 571/1175boleh ‘Afif Abd Allah Muhammad Al-Ursufi di dekat pintu umrah, bagian selatan Al-Masjid Al-Haram.madrasah Haramayn memiliki karakteristik yang langka danistimewa; yakni kosmopolitanisme. Madrasah-madrasah Haramayn tidak hanya dibangun dengan wakaf penguasa-penguasa dan dermawan dari berbagai penjuru Dunia Muslim, tetapi juga dipenuhi guru-guru dan murid-murid dari luar Hijaz. Karakteristik unik ini terbukti menjadi foktor terpenting yang mempertahankan tidak hanya eksistensi madrasah itu sendiri, tetapi juga kualitas pendidikan.
Bantuan keuangan Utsmani: Manfaat Haramayn
Terdapat tiga macam bantuan yang dikirim pemerintah Utsmani. Pertama, uang kontan yang disebut surre(“dompet”) yang dibagikan setiap tahun oleh Emir ul-Hajjkepada pegawai-pegawai rendah, ulama, dan penduduk Haramayn. Selain surre, perbendaharaan Mesir bertanggung jawab menyediakan ta’yinat-i Eshraf-i Harameyn, yakni bantuan keuangan tahunan untuk pembelian bahan makanan dan kebutuhan lain bagi syarif Makkah dan Madinah, keturunan Nabi, pemuka-pemuka, dan ulama. Pemerintah Mesir juga berkewajiban menutupi biaya pembelian gandum dan bahan makanan lain yang dikirim ke Haramayn. Selain bantuan-bantuan yang diatas, sejumlah besar dana dan bahan dikirim lembaga wakaf di Mesir, yang didirikan khusus untuk kepentingan Tanah Suci. Para penguasa Utsmani juga mempertahankan tradisi Mamluk dengan menutupi biaya kafilah haji yang meninggalkan Kairo sekali setahun dibawah pimpinan Emirul-Hajj yang bertanggung jawab, antara lain mengelola keuangan kafilah.
Perdagangan dan ibadah Haji
Kebangkitan kembali perdagangan di Lautan India sejak abad ke-15 merupakan faktor pokok kedua dalam peningkatan jumlah jamaah haji ke Haramayn.ini, misalnya tercermin dari pertumbuhan Jeddah sebagai pelabuhan utama bagi jamaah haji yang berasal dari kawasan Laut India.kebijakan-kebijakan tersebut menghasilkan kebangkitan Jeddah sebagai pelabuhan penting di wilayah ini. Jeddah berkembang sedemikian rupa, sehingga melampai Aden yang kini dijangkiti penyebaran bajak laut. Pedagang asing semakin banyak mendatangi Jeddah. Kebangkitan Jeddah menjadi pelabuhan dengan reputasi internasional menarik tidak hanya pedagang, tetapi juga parapecinta ilmu. Mereka mulai mendirikan ribathdan madrasah di Makkah dan Madinah, bahkan pedagang kaya India, pada pertengahan abad ke-16, mendirikan rumah-rumah wakaf di Jeddah. Jumlah jamaah haji dari India juga terus meningkat. Mengamati banyaknya jumlah jamaah haji dari greater India (India Major-Anak Benua India) dan dari Lesser India(India Minor, Insular India-Kepulauan Nusantara). Inilah laporan paling awal yang menyebut kehadiran jamaah haji dari Nusantara.
Segmen para Imigran dan Ulama Internasional
Kita telah melihat bahwa dengan perbaikan kondisi sosial politik di Haramayn dan lingkungannya, dalam kondisi abad ke-16 jumlah Muslim  yang datang dari berbagai penjuru Dunia Muslim ke Haramayn terus semakin meningkat. Namun demikian, terdapat sejumlah Muslim yang datang ke Haramayn tidak hanya untuk menunaikan haji, tetapi juga guna memenuhi tujuan-tujuan lain seperti memperoleh ilmu atau mengabdikan diri melayani tempat-tempat suci. Berikut beberapa kategori segmen imigran dan ulama yang bermukim di Haramanyn. Tipe pertama adalah mereka yang disebut Voll sebagai litteimmigrants, yakni orang-orang yang datang dan bermukim di Haramayn, dan diam-diam terserap dalam kehidupan social keagamaan setempat. Merka ini hidup sebagai penduduk setempat, dan tidak harus merepakan ulama. Tipe kedua adalah grand immigrants. Yaitu imigran yang telah mempunyai dasar yang baik dalam kehidupa Islam. Sebagian mereka adalah alim dan terkenal dinegri asal mereka atau di pusat-pusat keilmuan lain. Tipe ketiga adalah ulama dan murid pengembara yang menetap di Makkah dan Madinah dalam perjalanan panjang mereka menuntut ilmu. Mereka umumnya datang ke Haramayn untuk menunaikan haji dan sekaligus meningkatkan ilmu. Biasanya mereka memperpanjang masa mukim mereka di Tanah suci, dan pada umi di umnya belajar dengan sejumlah guru yang berbeda.Kemudian setelah mereka kembali ke negri asal masing-masing, dengan membawa ilmu, gagasan, dan metode yang dipelajari di Haramayn. Dengan begitu mereka menjadi transmitters utama tradisi keagamaan pusat-pusat keilmuan Timur Tengah ke berbagai bagian Dunia Muslim.
Diskurus keilmuan di Haramayn: Jaringan Awal Ulama
Tradisi keilmuan dikalangan ulam sepanjang sejarah Islam berkaitan erat dengan lembaga-lembaga social keagamaan dan pendidikan, seperti masjid, madrasah, ribatah, dan bahkan ruang guru. Hal ini khususnya jelas di Haramayn, dimana tradisi keilmuan menciptakan jaringan ulama ekstensif, yang mengatasi batas-batas wilayah perbedaan-perbedaan pandangan keagamaan. Makkah dan Madinah merupakn tempat terpenting bagi ulama yang terlibat dalam jaringan dasawarsa-dasawarsa terakhir abad ke-15. Meski meski jumlah madrasah dan ribth terus meningkat setelah madrasah pertama dan keduan di Makkah, kedua masjid uatam di Haramayn tetep menjadi pelengkap vital bagi keilmuan di Tanah suci.peran penting yang dimainkan ulama Al-Masjid Al-Haram dan al-Masjid Al- Nabawi dalam hubungannya dengan kaum Muslim juga menjadi ciri yang cukup menonjol pada masa-masa belakangan, ketika jaringan ulama semakin semakin berkembang.
Jaringan ulama pra-Abad ke-17
Bagaimana ulama melaksanakan proses keilmuan di Haramayn? Ketika Ibn Jubayr di Makkah dia menyaksikan berbagai kegiatan keilmuan di al-Masjid al- Haramterdapat para pembaca Al-Quran dan penyalinan kitab-kitab keagamaan. Murid-Murid duduk dalam halaqah, mengelilingi guru-guru dan orang berilmu lainnya. Catatan- catatan lebih berkembang tentang Al-Masjid Al-Haram, seperti yang diberikan Al-Fasi, bersaksi bahwa halaqah tetap diperintahkan sebagai metode utama proses belajar-mengajar. Halaqah biasanya diselenggarakan di pagi hari, setelah salat Subuh, Asyar, Magrib dan Isya. Selama siang hari kegiatan pendidikan pindah ke madrasah-madrasah. Keterkaitan ulama di Haramayn kepada kedua masjid suci sementara mempertahankan afiliasi mereka dengan madrasah-madrasah dan ribth kelihatan merupakan salah satu ciri utama jaringan keilmuan di Makkah dan Madinah sejak periode ini sampai ke masa modern.
Banyak ulama di Haramayn pernah belajar di madrasah. Tetapi penting dicatat, mereka belajar di madrasah hanya pada tahap-tahap awal studi dan karir mereka. Setelah itu, biasanya mereka belajar dengan syaikh-syaikh di kedua masjid suci Haramayn. Atau pusat-pusat keilmuan lain di Timu Tengah. tingkat perkembangan jaringan ulama di Haramayn dapat diselidiki dalam catatan-catatan biografi sejumalah besar ulama yang disediakan sumber-sumber semasa.Kita tidak mempunyai banyak sumber sejarah yang khusus mengungkapkan proses keilmuan di ajaringan ulama di dalm jaringan pada periode ini memberikan gambaran yang pada esensinya sama.
Jaringan ulama mendapatkan dorongan kuat ketika Ibrahim Al-Kurani, murid Al-Qusyasyi paling tersohor, memapankan karirnya di Madinah setelah mengembara menuntut ilmu diberbagai tempat di Timur Tengah. Kenyataannya bahwa Al-Kuraininmempunyai posisi amat penting dalam perkembangan jaringan ulama lebih lanjut, tidak hanya amat banyaknya jumlah murid-muridnya, dan hanya hubungan yang sangat luas, tetapi juga melalui karya-karyanya yang cukup banyak. Dia merupakan titik mulai bersama bagi garis-garis hubungan banyak ulama dalam abad ke-17 dan ke-18.Kebanyakan ulama generasi Ibrahim Al-Kurani wafat dalm paruh kedua abad ke-17. Tetapi mata rantai jaringan ulama berlanjut dengan murid-murid mereka, yang pada gilirannya menjadi penghubung-penghubung krusial dengan ulama abad ke-18. Saling-saling hubungan ulama yang terlibat dalam jaringan menciptakan komunitas-komunitas intelektual internasional yang saling berkaitan satu sama lain. Hubungan-hubungan di antara mereka pada umumnya tercipta dalam kaitan dengan upaya pencarian ilmu melalui lembaga-lembaga pendidikan, seperti masjid, madrasah, dan ritbath. Kaitan dasar diantara mereka bersifat akademis. Koneksi di antara mereka satu sama lain mengambil bentuk hubungan guru dengan murid (hubungan vertikal) atau bentuk lain seperti hubungan guru dengan guru dan murid dengan murid(hubungan horizontal). Mobilisasi guru dan murid yang relative tinggi memungkinkan pertambahan jaringan ulama sehingga mengatasi batas-batas wilayah, perbedaan asal etis, dan kecenderungan keagamaan dalam hal mazhab dan sebagainya.
Dua sarana penting yang membuat hubungan relative solid adalah isnad hadist dan silsilah tarekat. Keduanya memainkan peranana krusial dalam menghubungkan ulam yang terlibat dalam jaringan, yeng berpusat di Haramayn pada abad ke-18. Seperti kita tunjukan dalm hal ini guru dan murid asal Afrika Utara, dan Mesir, misalnya membawa tradisi studi hadist di wilayah mereka ke Haramayn. Kedatangan ulama dari tempat-tempat lain amat membantu dalam membangkitkan kembali posisi dominan Haramayn dalam studi hadis. Interaksi dan hubungan-hubungan di antara berbagai tradisi keilmuan ini, pada gilirannya, menciptakan suatu tradisi yang unik.
Sedangkan silah tarekat, secara tradisional merupakan sarana penting dalam menciptakn hubungan-hubungan lebih erat di antara ulama. Ini disebabkan sifat dasar kehidupan dan pola-pola hubungan structural di dalam tarekat itu sendiri. Murid-murid dalam jaringan mistis, secara definisi, harus tunduk kepada ajaran, perintah dan keinginan syaikh tarekat, baik yang langsung bertemu dengan mereka mauoun tidak langsung hanya bertemu dalam silsilah. Kenyataan ini menciptakan ikatan yang amat kuat di antara mereka yang terlibat dalam tarekat dan mengamalkan tasawuf.
Meski terdapat hubungan erat diantara ulama dalam jaringan, juga ada keragaman diantara mereka. Mereka beragam satu sama lain bukan hanya dalam hal tempat asal dan etnisasi, tetapi juga dalam hal mazhab dan afilasi tarekat. Meski ada perbedaan-perbedaan semacam ini,ulama dalam jaringan memiliki kecenderungan umum kea rah reformisme Islam.














SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU AKHLAK



SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU AKHLAK
Makalah  ini disusun guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf
Dosen pengampu : Qowim Musthofa, M. Hum


Description: G:\KULIAH\LOGO STIQ (2).jpg


Disusun oleh :

Eka Suryaningsih
Faikhatun Arizah
Isnaeni Alfi Nur Fajriyah
(14.10.822)
(14.10.825)
(14.10.834)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI ILMU AL-QUR’AN AN NUR BANTUL
YOGYAKARTA
2015
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..........................................................................  i
DAFTAR ISI .......................................................................................  ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang .........................................................................  1
B.     Rumusan Masalah..................................................................... 1
C.     Tujuan Penulisan....................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Sejarah Perkembangan Akhlak Pada Masa Yunani.................. 2
B.     Sejarah Akhlak pada Abad Pertengahan.................................. 5
C.     Sejarah Akhlak pada Bangsa Arab Sebelum Islam................... 5
D.    Sejarah Akhlak pada Bangsa Arab Setelah Islam..................... 6
E.     Sejarah Akhlak pada Zaman Baru............................................ 7
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan............................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................... 11

BAB 1
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Kata akhlak (etika) dalam pendekatan bahasa sebenarnya sudah dikenal manusia di muka bumi ini.Yaitu, yang dikenal dengan istilah adat istiadat atau tradisi yang sangat dihormati oleh setiap individu, keluarga dan masyarakat.pembahasan akhlak sudah muncul ketika manusia pertama kali menginjakkan kaki di muka bumi ini. Karena ketika menciptakan Adam dan menempatkannya di bumi, Allah SWT telah memberinya pelajaran tentang akhlak, perintah, dan larangan kaitannya dengan interaksi antar sesama.
Dalam kaitan ini pula, Franz Magnis Suseno mengatakan bahwa secara historis etika, sebagai usaha filsafat yang lahir dari kemerosotan tatanan moral di lingkungan kebugayaan Yunani 2500 tahun lalu.Karena pandangan-pandangan lama tentang baik dan buruk tidak lagi di percaya, para filsuf mempertanyakan kembali norma-norma dasar bagi kelakuan manusia.Pada pembahasan ini kami akan menjelaskan tentang sejarah perkembangan ilmu akhlak dari zaman Yunani , Pra-Islam, Islam dan setelahnya.

B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana perkembangan Akhlak pada Zaman Yunani?
2.    Bagaimana perkembangan Akhlak pada Pra-Islam?
3.    Bagaimana perkembangan Akhlak pada Masa Islam?
4.    Bagaimana perkembangan Akhlak pada Zaman Baru?

C.  Tujuan
1.    Untuk mengetahui bagaimana sejarah perkembangan ilmu akhlak sebelum Islam
2.    Untuk mengetahui perkembangan ilmu akhlak pada masa datangnya Islam
3.    Untuk mengetahui perkembangan ilmu akhlak masa Moderen.
BAB II
PEMBAHASAN
Akhlak adalah suatu kondisi jiwa yang menyebabkan ia bertindak tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan yang mendalam.[1]Maka bila sifat itu memunculkan perbuatan baik dan terpuji menurut akal dan syariat maka sifat itu disebut akhlak yang baik, dan bila yng muncul dari sifat itu perbuatan buruk maka disebut akhlak yang buruk.[2]
Ilmu akhlak dapat pula disebut sebagai ilmu yang berisi pembahasan dalam upaya mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberikan nilai atau hukum kepada perbuatan tersebut yaitu apakah perbuatan tersebut tergolong baik atau buruk. Ruang lingkup pembahasan  Ilmu Akhlak adalah membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk.[3]
Ilmu akhlak berfungsi memberikan panduan kepada manusia agar mampu menilai dan menentukan suatu perbuatan untuk selanjutnya menetapkan bahwa perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang baik atau yang buruk. Selanjutnya ilmu akhlak juga berkembang dari zaman yunani sampai zaman sekarang.     
A.  SEJARAH PERKEMBANGAN AKHLAK PADA ZAMAN YUNANI
1.    Tokoh-tokoh Sofistik (500-450 SM)
Sebelum kemunculan tokoh-tokoh Sofistik, akhlak kurang diperhatikan.Setelah mereka muncul mereka adalah ahli filsafat dan menjadi guru di beberapa negeri. Walaupun berbeda-beda pikiran dan pendapat mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu menyiapkan angkatan muda bangsa Yunani untuk menjadi nasional yang baik, merdeka, dan mengetahui kewajiban mereka terhadap tanah airnya.
2.    Socrates (469-399 SM)
Ia melakukan penyelidikan terhadap akhlak dan hubungan antarmanusia. Ia didaulat sebagai perintis ilmu akhlak Yunani yang pertama. Ia berpendapat bahwa akhlak dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia harus didasarkan pada ilmu. Tidak ditemukan pandangannya tentang tujuan akhir akhlak atau ukuran yang digunaknan untuk menilai suatu perbuatan apakah baik atau buruk.Oleh karena itu, tidak heran jika kemudian bermunculan berbagai pendapat tentang tujuan akhlak walaupun sama-sama didasarkan pada Socrates.

3.      Cynics dan Cyrenics
Diantara ajaran cynics adalah bahwa Tuhan dibersihkan dari segala kebutuhan dan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memiliki perangai akhlak ketuhanan. Dengan akhlak ketuhanan ini, seseorang sedapat mungkin meminimalisasi kebutuhan dan terbiasa dengan hidup sederhana. Adapun kelompok cyrenaics berpendapat bahwa mencari kebahagiaan dan menjahui kepedihan adalah satu-satunya tujuan hidup yang benar.

4.      Plato
Pandangan plato mengenai akhlak didasarkan pada teori ”model” (paradigma). Ia berpendapat bahwa di balik alam ini ada alam rohani (alam ideal) yang terdapat bermacam-macam kekuatan. Keutamaan muncul dari pertimbangan kekuatan tersebut dan tunduknya kekuatan pada hokum akal. Ia pun berpendapat bahwa prinsip-prinsip keutamaan ada empat yaitu hikmah atau kebijaksanaan, keberanian,keperwiraan. Dan keadilan.

5.      Aristoteles
Di antara beberapa pendapatnya tentang akhlak adalah sebagai berikut:
a.    Tujuan tarakhir yang dikehendaki manusia dalam semua tindakannya adalah “bahagia”.
b.    Jalan mencapai kebahagiaan adalah mempergunakan kekuatan akal pikiran dengan sebaik-baiknya.
c.    Keutamaan itu terletak di tengah-tengah, di antara dua keburukan. Dermawan misalnya adalah ditengah-tengah antara boros dan kikir, keberanian adalah ditengah-tengah antara membabibuta dan takut dan lain-lain.[4]

6.    Stoics dan Epicurics
Stoics dan Epicurics berbeda dengan para pendahulunya dalam penyelidikan akhlak. Stoics berpendirian sebagaimana paham Cynics yang pandangannya telah dikemukakan diatas. [5]
Epicurics mendasarkan pelajarannya pada paham kelompok Cyrenics.Filsafat Epikurus bertujuan menjamin kebahagiaan manusia. Di antara ajarannya adalah:
a.    Manusia tidak dapat tenang karena takut pada dewa-dewa, dan takut kepada mati dan nasib.
b.    Manusia tidak perlu takut karena dewa-dewa yang menikmati kebahagiaan yang kekal tidak mengganggu.
c.    Mati juga tidak perluditakutkan karena mati berarti tidak menderita.
d.   Nasib manusia ditentukan oleh manusia sendiri. Kalau manusia mempunyai ketenangan batin, manusia dapat mencapai tujuan hidupnya.
e.    Tujuan hidup manusia adalah hedone (kenikmatan, kepuasan).
Keseluruhan ajaran yang dikemukakan para pemikir yunani tersebut tampak bersifat rasionalistik. Penentuan baik dan buruk berdasarkan pada pendapat akal pikiran yang sehat dari manusia. Karenanya tidaklah salah kalau dikatakan bahwa ajaran akhlak yang dikemukakan para pemikir Yunani ini bersifat anthropocentris. Pendapat akal yang demikian dapat saja diikuti sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Al-Sunnah.
7.    Agama Nasrani
Pada akhir abad ketiga Masehi, tersiarlah agama Nasrani di Eropa.Agama itu dapat mengubah pemikira manusia dan membawa pokok-pokok akhlak yang tercantum dalam Taurat.Agama memberi pelajaran bahwa Tuhan merupakan sumber segala akhlak sebagai patokan yang harus kita pelihara dalam bentuk interaksi diantara kita dan Tuhanlah yang menjelaskan baik dan buruk.
Menurut para filsuf yunani pendorong untuk melakukan perbuatan baik adalah ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan, sedangkan menurut agama Nasrani,pendorong untuk melakukan perbuatan baik adalah cinta kepada Tuhan dan iman kepada-Nya.

B.  SEJARAH AKHLAK PADA ABAD PERTENGAHAN
       Pada abad pertengahan di kuasai oleh gereja.Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan “hakikat” telah diterima dari wahyu.Apa yang telah diperintahkan oleh wahyu tentu benar. Oleh karena itu, tidak ada artinya penggunaan akal dan pikiran untuk kegiatan penelitian.Ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada abad pertengahan adalah ajaran akhlak yang di bangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran Nasrani.[6]

C.  SEJARAH AKHLAK PADA BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM
Bangsa arab pada zaman jahiliyyah tidak menonjol dalam segi filsafat sebagaimana bangsa yunani. Hal ini karena penyelidikan terhadap ilmu terjadi hanya pada bangsa yang sudah maju pengetahuannya. Sekalipun demikian, bangsa arab pada waktu itu mempunyai ahli-ahli hikmah dan syair-syair yang mengandung nilai-nilai akhlak. Dapat dipahami bahwa bangsa arab sebelum islam telah memiliki kadar pemikiran yang minimal pada bidang akhlak, pengetahuan tentang berbagai macam keutamaan dan mengerjakannya, walupun nilai yang tercetus leqwat syair-syairnya belum sebanding dengan kata-kata hikmah yang di ucapkan oleh filsuf-filsuf Yunani Kuno. Dalam syariat-syariat mereka tersebut sudah ada muatan-muatan akhlak.

D.  SEJARAH AKHLAK PADA BANGSA ARAB SETELAH ISLAM
Islam datang mengajak manusia untuk percaya kepada  Alloh SWT, yang menjadi sumber segala sesuatu yang ada di seluruh alam. Dengan kekuasaan­-Nya segala yang ada di dunia dan di langit, semuanya berjalan secara beraturan menurut ketentuan-Nya.Sebagaimana halnya Alloh SWT telah menetapkan aturan yang harus diikuti manusia, seperti kebenaran dan keadilan, juga menjauhi segala perbuatan yang di larang, seperti dusta dan kezaliman.Keterangan tersebut di jelaskan dalam firman Alloh SWT, Qur’an surat an-Nahl ayat 30 yang artinya” sesungguhnya Alloh menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang melakukan perbuatan keji kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Dalam Islam, tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang di utus  untuk menyempurnakan akhlak. Akan tetapi tokoh pertama yang menulis ilmu akhlak dalam Islam masih diperbincangkan .berikut ini akan dikemukakan beberapa teori.
1.      Ali bin Abi Tholib, berdasarkan sebuah risalah yang di tulis untuk putranya Al-Hasan, setelah kepulangannya dari perang shiffin. Dan kandungnya terdapat dalam     kitab  Nahj Al-Balaghoh.
2.      Isma,il bin Mahran Abu An-Nashr As-Saukani pada abad ke-2 H,beliau menulis kitab Al mukmin wa Al-Fajir.
3.      Ja’far bin Ahmad Al-Qummi, penulis kitab Al-Mani’at min Dukhul Al-Jannah  pada abad ke-3H.
4.      Ar-Rozi (250-313H)  dalam kitab Ath- Thibb Ar-Ruhani (kesehatan), walaupun masih ada filsof lain seperti Kindi, Ibnu Sina.
5.      Ali bin Ahmad Al-Kufi.menulis kitab Al-Adab dan Makarim Al- Akhlak.
6.      Warrom bin Abi Al-Fawaris menulis kitab Tanbih Al-Khathir wa Nuzhah  An- Nazhir.
7.      Syehk Khowajah Nazhir Ath-thusi menulis kitab Al-Akhlak an-Nashriyyah wa Awshaf Asy-Asraf wa Adab Al-Muta’allimin.[7]

E.  SEJARAH AKHLAK PADA ZAMAN BARU
Pada akhir abad ke-15 Masehi, Eropa mulai mengalami kebangkitan dalam bidang filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Segala sesuatu yang selama ini dianggap mapan mulai diteliti, dikritik dan diperbaharui, hingga akhirnya mereka menerapkan pola bertindak dan berpikir secara liberal. Diantara masalah yang mereka kritik dan dilakukan pembaharuan adalah masalah akhlak. Penentuan patokan baik dan buruk yang semula didasarkan pada dogma greja diganti dengan berdasarkan pandangan ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman empirik.  Banyak tokoh pemikir akhlak yang lahir pada abad baru ini diantaranya:

1.    Descartes (1596-1650)
Adalah seorang ahli filsafat prancis yang telah meletakan dasar-dasar baru bagi ilmu pengetahuan dan filsafat, diantaranya:
a.    Tidak menerima sesuatu yang belum diperiksa oleh akal dan penelitian empiric. Apa yang didasarkan pada sangkaan semata dan tumbuh dari kebiasaan wajib ditolak.
b.     menyelidiki dari hal yang terkecil dan kemudian ke arah yang lebih komplek.
c.    Menetapakan kebenaran harus di uji terlebih dahulu .

2.    Jhon of Salisbury (1120-1180M).
Beliau adalah filsuf Inggris yang hidup pada tahun 1120-1180 M. Jhon of Salibus terkenal daengan uraiannya yang menjelaskan bahwa kekuatan spiritual berada di atas kekuatan duniawi. Oleh karena itu , ia menjadi pendukung gereja, berbicaara mewakili gereja, membela, menyerang kekuasaan dunia dan menggambarkannya sebagai pengikut spiritual pendapatnya diabadikan pada buku-bukunya. Bukunya yang paling masyhur berjudul Stateman’s Book. Buku ini membicarakan tentang dua pedang kekuasaan yaitu, pedang fisik dan pedang spiritual .keduanya bersumber pada gereja dan harus kembali kepadanya .

3.    Bentham (1748-1832 ) dan Stuart Mill (1806-1873 ).
Keduanya termasuk tokoh yang banyak terpengaruh oleh pemikiran Epicurus dengan cara mengubahnya menjadi paham utilitarianism yaitu paham yang semula didasarkan pada kebahagiaan yang bersifat individualistic kepada kebahagiaan yang bersifat universalistik.

4.    Thomas Hill Green (1836-1882 ) dan herbert Spencer (1820-1903 )
Kedunya mengaitkan paham evolusi dengan akhlak. Di antara pemikiran akhlak Green adalah;
a.    Manusia dapat memahami suatu keadaan yang lebih baik dan dapat menghendaki ,sebab ia adalah perilaku moral.
b.    Manusia dapat melakukan realisi diri karena ia adalah subjek yang sadar diri, reproduksi dari kesadaran diri yang abadi.
c.    Cita-cita keadaan yang lebih baik adalah ideal.
d.   Ide menjadi pelaku bermoral dalam kehidupan manusia.

5.    Spinoza (1632-1677), Hegel (1770-1831), dan Khat (1724-1831)
Dalam buku etika yang berjudul Ethica Ordine Geometrico Demonstrata yang bertujuan untuk mengurangi penderitaan orang-orang yang menganut suatu keyakinan.Sementara menurut Kant menyakini adanya kesusilaan.Titik berat etikanya adalah rasa kewajiban (panggilan hati nurani) untuk melakukan sesuatu berpangkang pada budi.


6.    Viktor Causin (1729-1867) dan August Comte (1798-1857)
Menurut Causin pemikirannya bahwa dasar Metafisika adalah pengamatan yang hati-hati dan analisis atas fakta-fakta tentang kehidupan sadar.Sedangkan August dijuluki dengan bapak sosiologi yang terkenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu social.

7.    Pasca Mill dan Spencer
Sejak mill dan spencer hingga sekarang penelitian tentang akhlak hanya menjelaskan teori-teori sebagaiman diutarakan di atas. Dengan kata lain belum di temukan teori-teori lain.[8]
                                   


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
A.   Sejarah Perkembangan Akhlak padab Zaman Yunani.
1.    Tokoh-Tokoh Sofistik (500-450)
2.    Sockrates (469-399)
3.    Cynics dan Cyrenics.
4.    Plato (427-347)
5.    Aristoteles  (9394-322)
6.    Stoics dan Epicuris
7.    Agama Nasrani

B.  Akhlak pada Abad Pertengahan
C.  Sejarah Akhlak pada Bangsa Arab sebelum Islam
D.  Sejarah Akhlak pada Masa setelah Islam
E.  Barat (Zaman  Baru).
1.    Descartes (1596-1650)
2.    Jhon of Salisbury (1120-1180 M).
3.    Bentham (1748-1832)  dan Stuart Mill (1806-1873)
4.    Thomas Hill Green (1836-1882) dan Herbert Spencer (1820-1903)
5.    Spinoza (1632-1677), Hegel (1770-1831), Khant (1724-1831)
6.    Victor Cousin (1792-1867), August Comte (1798-1857)
7.    Pasca Mill dan Spencer.


DAFAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon,akhlak tasawuf, Bandung: CV Pustaka Setia, 2010
Khoiri, Alwan, Tulus Mustofa dkk, Akhlak Tasawuf, Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005
Mustaqim, Abdul, Akhlak Tasawuf, Yogyakarta: Kreasi Wacanan,2007
Nata,  Abuddin, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, Jakarta: PT Raja Grafindo Prasada, 2013



[1] H.Abdul Mustaqim, Akhlak Tasawuf(kreasi wacanan Yogyakarta, 2007)hlm.2
[2] Alwan Khoiri, Tulus Mustofa dkk, Akhlak Tasawuf (Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2005). Hlm. 6.
[3] H. Abuddin Nata, M.A Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia (PT Raja Grfindo Persada Jakarta, 2013) hlm.6-7
[4] H.Abdul Mustaqim, Akhlak Tasawuf. op.cit. hlm. 54
[5] Ibid., hlm. 55.
[6] Rison Anwar, Akhlak Tasawuf (CV PUSTAKA SETIA, Bandung 2010) hlm.56
[7] Ibid., hlm.57-60
[8] Rison Anwar, Akhlak Tasawuf (CV PUSTAKA SETIA, Bandung 2010) hlm.60-65.