NAMA
: ISNAENI ALFI N
KELAS : SMT II1 PAI A
NIM :
14.10.834
MAPEL : ASWAJA
JARINGAN ULAMA
Penulis :Prof.Dr.Azyumardi Azra, MA.
Judul :Jaringan Ulama Timur Tengah dan
Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII
Jml halaman : xxvi, 466 hlm, 23 cm
Kota penerbit :Jl. Tambra Raya No.23 Rawamangun
Jakarta
Penerbit dan tahun terbit : KENCANA PRENADA MEDIA GROUP
Sumber dinamika Islam abad ke-17 dan ke-18 adalah
jaringan ulama, yang terutama berpusat
di Makkah dan Madinah. Posisi penting
kedua kota suci ini, khususnya dalam kaitan dengan ibadah haji, mendorong
sejumlah besar guru (‘ulama) dan penuntut ilmu dari berbagai wilayah Dunia
Muslim datang dan bermukim di sana, yang pada gilirannya menciptakan semacam
jaringan keilmuan yang menghasilkan wacanan ilmiah yang unik. Sebagian besar
mereka yang terlibat dalam jaringan ulama ini, yang berasal dari berbagai
wilayah Dunia Muslim, membawa berbagai tradisi keilmuan ke Makkah dan Madinah.
Tema pokok pembaharuan mereka adalah rekontruksi sosio-moral masyarakat Muslim.
Karena hubungan-hubungan ekstensis dalam jaringan ulama, semangat pembaharuan
tadi segera menemukan berbagai ekspresinya di banyak bagian Dunia Muslim.
Bagaimana
gagasan pemikiran islam di transmisikan dari pusat-pusat jaringan sehingga
terbentuk hubungan antara ulama Timur Tengah dan sampai ke Nusantara???????
Hubungan antara kaum Muslim di kawasan
Melayu-Indonesia dan Timur Tengah telah terjalin sejak masa-masa awal Islam. Proses-proses
dan alur historis yang terjadi dalam perjalanan Islam di Nuisantara dalam
hubungannya dengan perkembangan Islam di Timur Tengah, bias dilacak sejak masa
awal kedatangan dan penyebaran Islam di Nasantara sampai kurun waktu yang cukup
panjang, yakni akhir abad ke18. Pada awalnya hubungan itu lebih berbentuk
hubungan ekonomi dan dagang, kemudian disusul hubungan politik-keagamaan, dan
selanjutnya diikuti hubungan intelektual keagamaan. Untuk memahami secara
akurat bentuk-bentuk interaksi dan hubungan antara kedua wilayah ini, dan
dinamika historis yang terlibat didalamnya, dalam Bab ini kita akan mengkaji
berbagai teori tentang kedatangan dan perkembangan awal Islam di Nusantara
dengan kaitannya melihat dinamika Islam yang terjadi di Timur Tengah. Dan
hubungan Awal Muslim Nusantara dengan Timur Tengah.
Teori-teori kedatangan Islam di Nusantara
1.
PIJNAPPEL
bahwa
asal-muasal Islam di Nusantara berasal dari Anak Benua India bukan Persia atau
Arabia. Dia mengaitkan asal muasal Islam di Nusantara dengan wilayah Gujarat
dan Malabar, menurut dia orang-orang Arab bermadzhab Syafi’I yang bermigrasi
dan menetap di wilayah India tersebut yang kemudian membawa Islam ke Nusantara.
2. SNOUCK HURGRONJE
Berhujah,
begitu Islam berpijak kokoh dibeberapa pelabuhan Anak Benua India Muslim Deccon
tinggal disana sebagai pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dengan
Nusantara datang ke Dunia Melayu Indonesia sebagai para penyebar Islam pertama.
Kemudian mereka disusul orang-orang Arab kebnyakan keturunan Nabi karena
menggunakan gelar sayyid atau syarif yang menyelesaikan Islam di
Nusantara.
3. MOQUETTE
Mengatakan
bahwa tempat asal Islam di Nusantara adalah Gujarat. Ia mendasarkan kesimpulan
ini setelah mengamati bentuk batu nisan di Pasai, kawasan Utara Sumatra, khususnya
yang bertanggal 17 Dzu Al-Hijjah 831 H./27 September 1428 M. batu nisan yang
kelihatannya mirip dengan batu nasal lain yang ditemukan di makam Mawlana Malik
Ibrahim (w. 822/1419) di Gersik Jawa Timur , ternyata sama bentuknya dengan
batu nisan yang ditemukan di Cambay, Gujarat.
4. Marrison
Mengemukakan
teorinya bahwa Islam di Nusantara buakan berasal dari Gujarat, melainkan dibawa
penyebar Muslim dari pantai Coromandel pada akhir abad 13.
5. KEIJZER
Bahwa
Islam di Nusantara berasal dari Mesir. Atas dasar pertimbangan kesamaan
kepemelukan penduduk Muslim di kedua wilayah kepada mazhab syafi’i.
6. CRAWFRUD
mengatakan
Bahwa Islam dibawa langsung dari Arabia. Teori Arabia ini juga dipegang oleh
Niemann dan de Hollander dengan sedikit revisi, mereka memandang bukan Mesir
sebagai sumber Islam di Nusantara, melainkan Hadhramawut.
Dalam seminar yang disalenggarakan pada tahun 1969 dan
1978 menyimpulkan bahwa, Islam datang langsung dari Arabia, tidak dari India,
tidak pada abad ke-12 atau ke-13 melainkan dalam abad pertama Hijri atau abad
ke-7 Masehi. Dengan ditemukannya bukti-bukti seutbagai berikut:
Menurut Hikayat
Raja-Raja Pasai ( di tulis setelah 1350), seorang Syaikh ‘Ismail datang
dengan kapal dari Mekah via Malabar
ke Pasai, di sini ia membuat Merah Silau penguasa setempat, masuk Islam. Merah
Silau kemudian mengambil gelar Malik Al-Salih yang wafat pada 698/1297.
- Menurut sejarah
Melayu (ditulis setelah 1500), penguasa Malaka juga di Islamkan oleh Sayyid
‘Abd Al-Aziz seorang Arab dari Jeddah yang kemudian mengganti nama dengan gelar
Sultan Muhammad Syah.
- Hikayat Merong Mahawangsa (ditulis setelah 1630),
meriwayatkan bahwa seorang Syaikh’Abd Allah Al-Yamani datang dari Makkah ke
Nusantara dan mengislamkan penguasa setempat (Phra Ong Mahawangsa) menganti
nama dengan gelar Sultan Muzhaffar Syah, para Mentri dan penduduk Keddah).
- Sementara itu, sebuah historiografi dari Aceh memberi
Informasi bahwa nenek moyang para sultan Aceh adalah seorang Arab bernama
Syaikh Jamal Al-Alam, yang dikirim Sultan Utsmani untuk mengislamkan Penduduk
Aceh. Sebuah riwayat Aceh lainnya menyatakan bahwa Islam diperkenalkan ke
kawasan Aceh oleh seorng Arab Syaikh ‘Abd Allah ‘Arif sekitar 506/1111.
- Kebanyakan sarjana bersepakat, bahwa diantara penyebar
pertama Islam di Jawa adalah Mawlana Malik Ibrahim.
Hubungan Awal Muslim Nusantara dengan Timur Tengah
Hubungan Nusantara dengan Timur Tengah berawal dari
perdagangan yang dimulai pada masa Phunisia dan Saba. Hubungan antara keduanya
pada massa beberapa waktu sebelum kedatangan Islam dan masa awal Islam
terrutama merupakan hasil dari perdagangan Arab dan Persia dengan Dinasti Cina.
Yang kemudian melakuakn pengembaraan sampai ke Nusantara. Bukan hanya
perdagangan, setelah kebangkitan Islam di Timur Tengah tetapi jaga berbagai
bentuk hubungan dan pertukaran (exchanges) keagamaan, social, politik dan
kebudayaan.
Timur
tengan, cina, dan Nusantara
Kontak tercatat pertama antara Timur Tengah dengan
Cina pada umumnya bersifat diplomatic. Dibuktikan adanya pengiriman duta ke
cina pada masa khalifah ketiga, Utsman bin Affan (23-35/644-56). Ekspanasi
Islam ke Persia dan Anak Benua India sepanjang masa Dinasti Ummayah
(40-132/660-749) memberikan dorongan kepada pelayaran Arab-Persia untuk
menjelajah sampai ke Timur jauh. Sejak penaklukan wlayah ini memberikan Muslim
Arab dan orang Persia yang baru memeluk Islam sejumlah pelabuhan –pelabuhan
strategis dari Teluk Persia sampai Lautan India. Selama sekitar 90 tahun masa
Dinasti Ummayah, 17 duta Muslim muncul di Istana Cina, diikuti 18 duta yang
dikirim oleh para penguasa Dinasti Abbasiyah (133/750-182/798). Menyebabkan
berkembangnya koloni Ta Shih di Kanfu(Kanton) terbentuk pada paruh kedua abad
ke-7 M. menjelang abad ke-8, Muslim Arab dan Persia di Knton menjadi banyak dan
muncul pemberontakan terhadap penguasa cina. Pada 51/671 munculnya Muslim timur
Tengah yang kebanyakan Arab-Persia di Nusantara. Tepatnya di pelabuhan muara
sungai Bhoga/Palembang, ibukota Kerajaan Budha Sriwijaya. Hubungan-hubungan
politik dan diplomatik internasional Sriwijaya tidak hanya diberikan
sumber-sumber Arab tetapi sejumlah informasi lain.
“Benua
Ruhum” dan Nusantara
Kebangkitan beberapa kerajaan Muslim di Nusantara
sejak abad ke-13 menciptakan momentum baru bagi hubungan-hubungan politik,
agama antara Timur Tengah dengan Nusantara. Pada abad ini mereka mulai
memberikan perhatian khusus pada usaha-usaha penyebaran Islam di
Nusantara.mempertimbangkan semua perkembangan ini, tak heran kalau kemudian
para pedagang Arab dan Persia inimengalihkan kegiatan-kegiatan dagang mereka ke
tempat-tempat lain di Nusantara. Selain berdagang mereka mulai mengambil bagian
lebih aktf dalam penyebaran Islam sehingga hubungan yang baru lebih akrab
antara Timur Tengah dan Nusantara mulai muncul,hubungan yang diperkuat dengan
tali agama yang kini dengan cepat berkembang.
Makkah
dan Madinah hubungan dengan Nusantara
Hubungan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dengan
Timur Tengah tidak terbatas pada Dinasti Utsmani. Aceh, misalnya juga menjalin
hubungan dengan pusat keagamaan Islam, yakni Makkah dan Madinah. Meski hubungan
ini bersifat keagamaan ketimbang politik, penting dicatat bahwa hubungan
penguasa Aceh dengan Haramnyn mempunyai implikasi politik yang penting bagi
Aceh. Disamping penguasa-penguasa Aceh, Banten dan Mataram, beberapa penguasa
Muslim lainnya juga diketahui pernah menerima surat dari penguasa Haramnyn.
Menurut Daghegister 1640-1641,Sultan
Palembang menerima beberapa pucuk surat dari Makkah, yang dikirimkan dengan kapal-kapal
Aceh. Pengiriman surat-surat melalui pihak ketiga seperti dalam kasus
Keseltanan Palembang dan mengirim dua orang mullah dari Makkah ke Makasar
mengindikasikan terdapatnya orang-orang Nusantara dari masing-masing wilayah
itu di Makkah. Mereka boleh jadi adalah para pedagang atau jamaah haji yang,
memperpanjang masa tinggal mereka di Makkah untuk berdagang dan menuntut ilmu,
juga memainkan peran sebagai duta-duta karajaan mereka di Haramayn. Para
penguasa Haramayn setidaknya sejak abad ke-16 ketika mulai terjalinnya
hubungan-hubungan, terutama melalui perdagangan, kelihatannya telah mengenal
baik Muslim Nusantara.
Untuk menyimpulkan, hubungan-hubungan antara Timur
Tengah dengan Nusantara sejak kebangkitan Islam sampai paruh kedua abad ke-17
menempuh beberapa fase. Dalam fase pertama, akhir abad ke-8 sampai abad ke-12,
hubungan-hubungan yang ada pada umumnya berkenaan dengan perdagangan. Inisiatif
dalam hubungan-hubungan semacam ini kebanyakan diprakarsai Muslim Timur Tengah,
khususnya Arab dan Persia. Dalam fase berikutnya, smpai akhir abad ke-15,
hubungan-hubungan antara kedua kawasan mulai mengambil aspek-aspek lebih luas.
Muslim Arab dan Persia, apakah pedagang atau pengembara sufi, mulai
mengintensifikasikan penyebaran Islam di berbagai wilayah Nusantara. Pada tahap
ini hubungan-hubungan keagamaan dan kultural terjalin lebih erat.
Tahap ketiga adalah sejak abad ke-16 sampai paruh
kedua abad ke 17. Dalam masa ini hungan-hubungan yang terjalin lebih bersifat
politik selain keagamaan tadi. Di antara factor terpenting di balik
perkembangan ini adalah kedatangan dan peningkatan pertarungan di antara
kekuasaan Portugis dengan Dinasti Utsmani di kawasan Lautan India. Dalam
periode ini, kaum Muslim Nusantara mengambil banyak inisiatif untuk menjalin hubungan
politik dan keagamaan dengan Dinasti Utsmani dan sekaligus pula memainkan peran
lebih aktif dam perdagangan di Lautan India. Menjelang paruh kedua abad ke-17,
hubungan-hubungan keagamaan dan politik juga terjalin dengan para penguasa
Haramayn. Dalam periode ini, Muslim Nusantara semakin banyak ke Tanah Suci,
yang pada gilirannya mendorong terciptanya jalinan keilmuan antara Timur Tengah
dengan Nusantara melalui ulama Timur Tengah dan murid-murid Jawi, yang akan
dibahas pada bab selanjutnya.
JARINGAN ULAMA DI HARAMAYN ABAD KETUJUH BELAS
Makkah dan Madinah, sering disebut (“dua haram”),
menduduki posisi sangat istimewa dalam Islam dan kehidupan kaum Muslim. Ilmu
yang diperoleh di Haramayn dipandang lebih tinggi nilainya dari pada ilmu yang
diperoleh di pusat-pusat keilmuan lain. Bagi banyak Muslim, khususnya di
Nusantara, ulama jebolan Haramayn dipandang lebih dihormati daripada mereka
yang memperoleh pendidikan di tempat lain di mana pun. Haramayn adalah pusat
intelaktual Dunia Muslim, ulama, sufi, filosof, penyair, pengusaha, dan
sejarawan Muslim bertemu dan saling menukar informasi. Inilah satu sebab
mengapa ulama dan penuntut ilmu yang mengajar dan belajar di Makkah dan Madinah
pada umumnya memiliki pandangan keagamaan lebih cosmopolitan dibandingkan merekan
yang berada di kota-kota Muslim lain.
Kebangkitan jaringan ulama itu berkaitan dengan
beberapa faktor penting, yang tidak hanya bersifat keagamaan, tetapi juga
ekonomi, social, dan politik. Faktor-faktor ini bekerja, baik pada tingkat
masyarakat Muslim tertentu maupun pada tingkat dunia Muslim. Kontak dan
hubungan antara Muslim di Nusantara dan Timur Tengah mulai menemukan momentum
dengan muncul dan berkembangnya kerajaan-kerajaan Muslim di Nusantara.
Intensifikasi perdagangan di Lautan India menimbulkan kontak yang lebih intens
tidak hanya diantara para pedagang Muslim, tetapi juga diantara penguasa dan
pejabat-pejabat Muslim. Peningkatan kehadiran bangsa Eropa khususnya Portugis,
di kawasan lautan India juga merupakan faktor penting yang mendorong
terciptanya hubungan politik dan diplomatic yang lebih erat antara Nusantara
dan Timur Tengah. Akselerasi hubungan-hubungan ini memberi sumbangan signifikan
kepada pertumbuhan jumlah jamaah haji Melayu-Indonesia di Haramayn, yang pada
gilirannya memacu keterlibatan mereka di dalam jaringan ulama yang ada.
Kebangkitan
Madrasah Haramayn
Kembalinya ulama merangsang sekali lagi kebangkitan
keilmuan Suni yang pada gilirannya, mendorong pertumbuhan madrasah sebagai
pendidikan tipikal Muslim. Sebelum munculnya madrasah, pendidikan Muslim sejak
masa Nabi dilaksanakan dalam halaqah,
majlis al-tadris, dan kuttab. Madrasah pertama di Makkah adalah Madrasah
Al-Ursufiyah yang didirikan pada 571/1175boleh ‘Afif Abd Allah Muhammad
Al-Ursufi di dekat pintu umrah, bagian selatan Al-Masjid Al-Haram.madrasah
Haramayn memiliki karakteristik yang langka danistimewa; yakni
kosmopolitanisme. Madrasah-madrasah Haramayn tidak hanya dibangun dengan wakaf
penguasa-penguasa dan dermawan dari berbagai penjuru Dunia Muslim, tetapi juga dipenuhi
guru-guru dan murid-murid dari luar Hijaz. Karakteristik unik ini terbukti
menjadi foktor terpenting yang mempertahankan tidak hanya eksistensi madrasah
itu sendiri, tetapi juga kualitas pendidikan.
Bantuan
keuangan Utsmani: Manfaat Haramayn
Terdapat tiga macam bantuan yang dikirim pemerintah
Utsmani. Pertama, uang kontan yang disebut surre(“dompet”) yang dibagikan
setiap tahun oleh Emir ul-Hajjkepada
pegawai-pegawai rendah, ulama, dan penduduk Haramayn. Selain surre, perbendaharaan Mesir bertanggung
jawab menyediakan ta’yinat-i Eshraf-i Harameyn, yakni bantuan keuangan tahunan
untuk pembelian bahan makanan dan kebutuhan lain bagi syarif Makkah dan
Madinah, keturunan Nabi, pemuka-pemuka, dan ulama. Pemerintah Mesir juga
berkewajiban menutupi biaya pembelian gandum dan bahan makanan lain yang
dikirim ke Haramayn. Selain bantuan-bantuan yang diatas, sejumlah besar dana
dan bahan dikirim lembaga wakaf di Mesir, yang didirikan khusus untuk
kepentingan Tanah Suci. Para penguasa Utsmani juga mempertahankan tradisi
Mamluk dengan menutupi biaya kafilah haji yang meninggalkan Kairo sekali
setahun dibawah pimpinan Emirul-Hajj
yang bertanggung jawab, antara lain mengelola keuangan kafilah.
Perdagangan
dan ibadah Haji
Kebangkitan kembali perdagangan di Lautan India sejak
abad ke-15 merupakan faktor pokok kedua dalam peningkatan jumlah jamaah haji ke
Haramayn.ini, misalnya tercermin dari pertumbuhan Jeddah sebagai pelabuhan
utama bagi jamaah haji yang berasal dari kawasan Laut India.kebijakan-kebijakan
tersebut menghasilkan kebangkitan Jeddah sebagai pelabuhan penting di wilayah
ini. Jeddah berkembang sedemikian rupa, sehingga melampai Aden yang kini dijangkiti
penyebaran bajak laut. Pedagang asing semakin banyak mendatangi Jeddah. Kebangkitan
Jeddah menjadi pelabuhan dengan reputasi internasional menarik tidak hanya
pedagang, tetapi juga parapecinta ilmu. Mereka mulai mendirikan ribathdan madrasah di Makkah dan
Madinah, bahkan pedagang kaya India, pada pertengahan abad ke-16, mendirikan
rumah-rumah wakaf di Jeddah. Jumlah jamaah haji dari India juga terus
meningkat. Mengamati banyaknya jumlah jamaah haji dari greater India (India Major-Anak Benua India) dan dari Lesser India(India Minor, Insular
India-Kepulauan Nusantara). Inilah laporan paling awal yang menyebut kehadiran
jamaah haji dari Nusantara.
Segmen
para Imigran dan Ulama Internasional
Kita telah melihat bahwa dengan perbaikan kondisi
sosial politik di Haramayn dan lingkungannya, dalam kondisi abad ke-16 jumlah
Muslim yang datang dari berbagai penjuru
Dunia Muslim ke Haramayn terus semakin meningkat. Namun demikian, terdapat
sejumlah Muslim yang datang ke Haramayn tidak hanya untuk menunaikan haji,
tetapi juga guna memenuhi tujuan-tujuan lain seperti memperoleh ilmu atau mengabdikan
diri melayani tempat-tempat suci. Berikut beberapa kategori segmen imigran dan
ulama yang bermukim di Haramanyn. Tipe pertama adalah mereka yang disebut Voll
sebagai litteimmigrants, yakni orang-orang yang datang dan bermukim di
Haramayn, dan diam-diam terserap dalam kehidupan social keagamaan setempat.
Merka ini hidup sebagai penduduk setempat, dan tidak harus merepakan ulama.
Tipe kedua adalah grand immigrants. Yaitu imigran yang telah mempunyai dasar
yang baik dalam kehidupa Islam. Sebagian mereka adalah alim dan terkenal
dinegri asal mereka atau di pusat-pusat keilmuan lain. Tipe ketiga adalah ulama
dan murid pengembara yang menetap di Makkah dan Madinah dalam perjalanan
panjang mereka menuntut ilmu. Mereka umumnya datang ke Haramayn untuk menunaikan
haji dan sekaligus meningkatkan ilmu. Biasanya mereka memperpanjang masa mukim
mereka di Tanah suci, dan pada umi di umnya belajar dengan sejumlah guru yang
berbeda.Kemudian setelah mereka kembali ke negri asal masing-masing, dengan
membawa ilmu, gagasan, dan metode yang dipelajari di Haramayn. Dengan begitu
mereka menjadi transmitters utama tradisi keagamaan pusat-pusat keilmuan Timur
Tengah ke berbagai bagian Dunia Muslim.
Diskurus
keilmuan di Haramayn: Jaringan Awal Ulama
Tradisi keilmuan dikalangan ulam sepanjang sejarah
Islam berkaitan erat dengan lembaga-lembaga social keagamaan dan pendidikan,
seperti masjid, madrasah, ribatah, dan bahkan ruang guru. Hal ini khususnya
jelas di Haramayn, dimana tradisi keilmuan menciptakan jaringan ulama ekstensif,
yang mengatasi batas-batas wilayah perbedaan-perbedaan pandangan keagamaan.
Makkah dan Madinah merupakn tempat terpenting bagi ulama yang terlibat dalam
jaringan dasawarsa-dasawarsa terakhir abad ke-15. Meski meski jumlah madrasah
dan ribth terus meningkat setelah madrasah pertama dan keduan di Makkah, kedua
masjid uatam di Haramayn tetep menjadi pelengkap vital bagi keilmuan di Tanah
suci.peran penting yang dimainkan ulama Al-Masjid Al-Haram dan al-Masjid Al-
Nabawi dalam hubungannya dengan kaum Muslim juga menjadi ciri yang cukup
menonjol pada masa-masa belakangan, ketika jaringan ulama semakin semakin
berkembang.
Jaringan ulama
pra-Abad ke-17
Bagaimana
ulama melaksanakan proses keilmuan di Haramayn? Ketika Ibn Jubayr di Makkah dia
menyaksikan berbagai kegiatan keilmuan di al-Masjid al- Haramterdapat para
pembaca Al-Quran dan penyalinan kitab-kitab keagamaan. Murid-Murid duduk dalam
halaqah, mengelilingi guru-guru dan orang berilmu lainnya. Catatan- catatan
lebih berkembang tentang Al-Masjid Al-Haram, seperti yang diberikan Al-Fasi,
bersaksi bahwa halaqah tetap diperintahkan sebagai metode utama proses
belajar-mengajar. Halaqah biasanya diselenggarakan di pagi hari, setelah salat
Subuh, Asyar, Magrib dan Isya. Selama siang hari kegiatan pendidikan pindah ke
madrasah-madrasah. Keterkaitan ulama di Haramayn kepada kedua masjid suci
sementara mempertahankan afiliasi mereka dengan madrasah-madrasah dan ribth
kelihatan merupakan salah satu ciri utama jaringan keilmuan di Makkah dan
Madinah sejak periode ini sampai ke masa modern.
Banyak
ulama di Haramayn pernah belajar di madrasah. Tetapi penting dicatat, mereka belajar di
madrasah hanya pada tahap-tahap awal studi dan karir mereka. Setelah itu,
biasanya mereka belajar dengan syaikh-syaikh di kedua masjid suci Haramayn.
Atau pusat-pusat keilmuan lain di Timu Tengah. tingkat perkembangan jaringan
ulama di Haramayn dapat diselidiki dalam catatan-catatan biografi sejumalah
besar ulama yang disediakan sumber-sumber semasa.Kita tidak mempunyai banyak
sumber sejarah yang khusus mengungkapkan proses keilmuan di ajaringan ulama di dalm
jaringan pada periode ini memberikan gambaran yang pada esensinya sama.
Jaringan ulama mendapatkan dorongan kuat ketika
Ibrahim Al-Kurani, murid Al-Qusyasyi paling tersohor, memapankan karirnya di
Madinah setelah mengembara menuntut ilmu diberbagai tempat di Timur Tengah.
Kenyataannya bahwa Al-Kuraininmempunyai posisi amat penting dalam perkembangan
jaringan ulama lebih lanjut, tidak hanya amat banyaknya jumlah murid-muridnya,
dan hanya hubungan yang sangat luas, tetapi juga melalui karya-karyanya yang
cukup banyak. Dia merupakan titik mulai bersama bagi garis-garis hubungan
banyak ulama dalam abad ke-17 dan ke-18.Kebanyakan ulama generasi Ibrahim
Al-Kurani wafat dalm paruh kedua abad ke-17. Tetapi mata rantai jaringan ulama
berlanjut dengan murid-murid mereka, yang pada gilirannya menjadi
penghubung-penghubung krusial dengan ulama abad ke-18. Saling-saling hubungan
ulama yang terlibat dalam jaringan menciptakan komunitas-komunitas intelektual
internasional yang saling berkaitan satu sama lain. Hubungan-hubungan di antara
mereka pada umumnya tercipta dalam kaitan dengan upaya pencarian ilmu melalui
lembaga-lembaga pendidikan, seperti masjid, madrasah, dan ritbath. Kaitan dasar
diantara mereka bersifat akademis. Koneksi di antara mereka satu sama lain
mengambil bentuk hubungan guru dengan murid (hubungan vertikal) atau bentuk
lain seperti hubungan guru dengan guru dan murid dengan murid(hubungan
horizontal). Mobilisasi guru dan murid yang relative tinggi memungkinkan
pertambahan jaringan ulama sehingga mengatasi batas-batas wilayah, perbedaan
asal etis, dan kecenderungan keagamaan dalam hal mazhab dan sebagainya.
Dua sarana penting yang membuat hubungan relative
solid adalah isnad hadist dan silsilah
tarekat. Keduanya memainkan peranana krusial dalam menghubungkan ulam yang
terlibat dalam jaringan, yeng berpusat di Haramayn pada abad ke-18. Seperti
kita tunjukan dalm hal ini guru dan murid asal Afrika Utara, dan Mesir,
misalnya membawa tradisi studi hadist di wilayah mereka ke Haramayn. Kedatangan
ulama dari tempat-tempat lain amat membantu dalam membangkitkan kembali posisi
dominan Haramayn dalam studi hadis. Interaksi dan hubungan-hubungan di antara
berbagai tradisi keilmuan ini, pada gilirannya, menciptakan suatu tradisi yang
unik.
Sedangkan silah tarekat, secara tradisional merupakan
sarana penting dalam menciptakn hubungan-hubungan lebih erat di antara ulama.
Ini disebabkan sifat dasar kehidupan dan pola-pola hubungan structural di dalam
tarekat itu sendiri. Murid-murid dalam jaringan mistis, secara definisi, harus
tunduk kepada ajaran, perintah dan keinginan syaikh tarekat, baik yang langsung
bertemu dengan mereka mauoun tidak langsung hanya bertemu dalam silsilah.
Kenyataan ini menciptakan ikatan yang amat kuat di antara mereka yang terlibat
dalam tarekat dan mengamalkan tasawuf.
Meski terdapat hubungan erat diantara ulama dalam
jaringan, juga ada keragaman diantara mereka. Mereka beragam satu sama lain
bukan hanya dalam hal tempat asal dan etnisasi, tetapi juga dalam hal mazhab
dan afilasi tarekat. Meski ada perbedaan-perbedaan semacam ini,ulama dalam
jaringan memiliki kecenderungan umum kea rah reformisme Islam.
